Minggu, 04 Januari 2015

Mana yang lebih mudah ? Menulis atau Membaca ?

membaca dan menulis

Salam jumpa para blogger ! Ini adalah artikel ke tiga saya. Jujur saat ini saya masih sering merasa kesulitan mau menulis apa. Saya selalu bingung dalam menentukan ide untuk artikel saya.

Setelah mencoba membuat blog, saya menjadi tahu ternyata menulis itu tidak semudah yang saya bayangkan sebelumya. Menulis rupanya tidak semudah membaca.

Menurut saya, saat membaca yang kita lakukan adalah mencoba memahami apa yang kita baca. Dan tulisan yang kita baca pun biasanya adalah memang tulisan yang ingin kita baca atau cari sebelum kita membaca. Seperti saat saya ingin membuat blog, artikel yang saya ingin baca tentunya adalah artikel tentang panduan dalam membuat blog. Jadi pada saat membaca artikel itu tentunya saya merasa antusias dan bersemangat karena memang itu yang perlu saya baca.

Tapi lain halnya saat kita menulis. Saat menulis saya merasa seolah-olah sedang memainkan dua peran sekaligus. Sebagai pembaca dan sebagai penulis. Karena saat menulis kita tidak hanya menuangkan apa yang kita pikirkan. Tapi kita juga harus memperhatikan apakah pembaca akan merasa terhibur, antusias, atau mendapat manfaat saat ia membaca tulisan kita. Secara tidak langsung kita telah dituntut untuk menjadi pembaca saat kita menulis artikel kita.

Kesimpulannya, untuk bisa menulis kita harus bisa membaca. Bahkan menanam padi pun bukan hanya persoalan mencangkul tanah dan menanam benih saja kan. Tapi kita juga harus merawatnya dengan baik agar beras yang dihasilkan berkualitas dan bisa membuat orang lain merasakan kenikmatan saat memakannya.

Jadi. mana yang lebih mudah menurut anda ?
Menulis atau membaca ?



Jumat, 02 Januari 2015

Perubahan Hanyalah Soal Kau Berbeda dari Sebelumnya

everybody's changing, perubahan

Hari ini adalah tanggal 1 Januari. Bicara soal tahun baru, pasti tidak bisa lepas dari resolusi dan perubahan.

Menurut kalian apa arti perubahan ? Pasti jawaban anda tidak akan lepas dari
  • tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu
  • hari ini harus lebih baik dari hari kemarin
  • hari esok lebih baik dari hari ini
  • dan jawaban lain sejenisnya
Tapi kalau kita lebih memahami makna "perubahan", mungkin kata ini tidak melulu harus dikaitkan dengan perkembangan atau progres menjadi lebih baik. Orang kaya yang kemudian menjadi miskin karena bangkrut juga bisa disebut perubahan. Anak sekolah yang semula rangking 1 lalu sekarang menjadi rangking 5 misalnya, itu juga bisa disebut perubahan. Lalu apa makna yang lebih tepat untuk perubahan ?

Kalau menurut saya pribadi, perubahan hanyalah soal kau berbeda dari sebelumnya. Ya, mungkin memang sesederhana itu. Tapi bukan berarti perubahan juga bisa diidentikkan dengan "kemunduran". Karena maju atau mundurnya sesuatu itu hanyalah persoalan dari sudut pandang mana hal itu dinilai.

Contoh sederhananya bayangkan saja kita berdiri di depan pintu rumah. Lalu kita berjalan keluar untuk membeli sesuatu. Saat itu kita bisa dikatakan telah melakukan gerakan maju atau "perubahan maju". Tapi ternyata setelah ke luar dari halaman rumah ternyata kita baru sadar kalau dompet kita tertinggal. Akhirnya kita terpaksa harus kembali lagi ke rumah untuk mengambil dompet. Nah... Pada saat kita berjalan untuk pulang kembali untuk mengambil dompet, apakah itu bisa disebut "mundur/kemunduran".

Mungkin itu tidak bisa disebut mundur/kemunduran. Akan lebih tepat jika itu disebut berbalik atau berubah arah, karena faktanya pada saat kita berjalan kembali pulang kita tetap berjalan maju bukannya mundur. Kalau saat pulang kita jalan mundur mungkin sudah jatuh ke selokan deh, haha...

Sama halnya saat kita melihat perubahan pada diri orang lain. Kita tidak dapat menjudge itu baik atau buruk hanya dari sudut pandang kita sendiri. Mungkin itu terlihat buruk di mata kita, tapi belum tentu sama di mata orang lain.

Kesimpulannya, perubahan hanyalah soal kau berbeda dari sebelumnya. Memang tak akan mungkin perubahan akan terlihat baik di mata semua orang. Tapi saya rasa perubahan tidak ada yang buruk atau mundur. Yang ada hanyalah berubah arah. Karena faktanya tidak ada orang yang berjalan mundur untuk kembali ke rumah hanya untuk mengambil dompet yang tertinggal.

hahaha....




Kamis, 01 Januari 2015

Arti Sebuah Komitmen

komitmen

Komitmen...
Apa itu komitmen ?
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata KOMITMEN didefinisikan sebagai perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu.

Sedang dalam perkembangannya, kata perjanjian sendiri mungkin bisa diartikan suatu ikrar, sumpah atau janji yang disepakati oleh dua belah pihak atau lebih untuk memenuhi atau mematuhi segala sesuatu yang telah disetujui atau disepakati dalam perjanjian itu sendiri dan semua itu tercantum dalam bukti konkrit berupa surat perjanjian atau sebuah buku perjanjian. Dalam hal ini kita dapat mengambil contoh Surat Perjanjian Kerja, Akta Jual Beli, dan lain sebagainya.

Lalu apakah kata JANJI yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari memiliki arti dan pemahaman kata yang sama seperti PERJANJIAN. Contoh sederhana yang dapat kita ambil seperti pada saat kita berjanji akan mengembalikan barang yang kita pinjam tepat waktu, janji untuk nonton bioskop dengan teman atau pacar, janji untuk tidak terlambat lagi yang kita ucapkan kepada guru saat kita di sekolah dan mungkin anda bisa menambahkan lebih banyak lagi contoh-contoh yang lain. Apakah janji-janji yang kita sebutkan di atas tadi bisa dikategorikan sebagai perjanjian ? Bagaimana pendapat anda.

Kalau menuru saya pribadi, mungkin janji-janji seperti yang kita sebutkan di atas bisa dikategorikan sebagai komitmen, tapi bukan perjanjian. Mengapa begitu ? Bukankah dalam paragraf pertama di atas komitmen didefinisikan sebagai perjanjian. Ya, memang benar. Tapi dalam perkembangannya dewasa ini yang bisa disebut sebagai perjanjian adalah komitmen yang divisualisasikan dengan bukti hitam di atas putih. Jika bukti itu tidak ada, itu semua bukanlah perjanjian, itu hanyalah komitmen.

Ya, hanya komitmen....

Ironis memang. Tapi itulah fakta yang dapat kita lihat saat ini. Sebesar apapun resiko yang diambil dan segigih apapun seseorang memegang komitmen, tidak akan berarti bila itu semua tidak di wujudkan menjadi perjanjian. Bayangkan jika salah satu pihak dalam sebuah komitmen (bukan perjanjian) mengingkari komitmen dimana dipertaruhkan resiko besar di dalamnya, tentunya salah satu pihak akan mendapat keuntungan yang besar dan pihak lainnya akan sangat dirugikan. Bukan hanya soal kerugian materi, tapi juga mental atau psikologi. 

Kesimpulannya, tinggi rendahnya level komitmen tidak lagi dinilai dari besarnya pengorbanan dan resiko yang diambil atau pun kegigihan untuk memegang komitmen, melainkan dinilai dari berapa harga materai yang terkena goresan pena anda.

Jadi, masih bersediakah anda berkomitmen....?